Sopir Angkot Bogor Tetap Beroperasi Meski Bingung Cari Uang

by -di lihat 4 kali
Sopir Angkot Bogor Tetap Beroperasi Meski Bingung Cari Uang

Sopir Angkot di Kota Bogor Tetap Beroperasi Meski Melebihi Batas Usia

Di tengah kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor yang melarang angkutan kota (angkot) berusia lebih dari 20 tahun, sejumlah sopir angkot tetap memilih untuk terus beroperasi. Kebijakan ini diberlakukan mulai 1 Januari 2026, dan mengharuskan sebanyak 1.940 unit angkot yang sudah melebihi batas usia tersebut untuk tidak lagi beroperasi. Namun, banyak dari para pengemudi tetap menjalani pekerjaannya seperti biasa, meskipun mereka tahu bahwa kebijakan ini akan berdampak pada masa depan mereka.

Salah satu contoh adalah Aprianto (59), seorang sopir angkot di Bogor Utara. Dia mengaku bahwa kendaraannya termasuk salah satu yang terkena dampak kebijakan tersebut karena sudah beroperasi sejak tahun 2000. “Saya sementara beroperasi,” ujarnya kepada BOGORMEDIA, Jumat (2/1/2026).

Aprianto mengatakan bahwa ia belum tahu bagaimana nasibnya ke depan setelah kebijakan ini diberlakukan. Namun, hingga saat ini dia tetap bekerja demi mencari nafkah untuk keluarga di rumah. “Gak tahu kalau entar besok-besok di-sweeping besok-besok sementara kita enggak tahu,” katanya.

Keberadaan angkot di Kota Bogor kini semakin sulit. Menurut Aprianto, bahkan mendapatkan pendapatan bersih Rp 50.000 per hari saja sudah cukup membuatnya bersyukur, karena setelah dipotong setoran, pendapatan yang diterimanya sangat minim. “Untuk mendapatkan pendapatan bersih Rp 50.000 sehari saja setelah dipotong setoran, sopir sudah bisa bersyukur karena saking beratnya,” jelasnya.

Menurut pengamatan Aprianto, hal ini diduga disebabkan oleh menurunnya jumlah warga yang menggunakan transportasi angkot dari tahun ke tahun. “Pendapatan sekarang jauh beda dibanding tahun 2000 sekianan, jauh pendapatannya,” tambahnya.

Namun, ia menyebutkan bahwa pemilik atau pengusaha angkot cenderung memahami kondisi ini. “Untungnya, kata dia, pemilik atau pengusaha angkot memahami akan hal ini ketika pendapatan omzet sopir angkot kini kian berkurang.”

Tantangan yang Dihadapi Sopir Angkot

Selain menghadapi penurunan pendapatan, para sopir angkot juga harus menghadapi tantangan lain, seperti persaingan dengan transportasi online dan perubahan kebiasaan masyarakat dalam menggunakan transportasi umum. Hal ini membuat daya saing angkot semakin berkurang.

Beberapa sopir angkot juga mengeluhkan masalah biaya operasional yang semakin meningkat. Mulai dari harga bahan bakar yang naik, biaya perawatan kendaraan, hingga pajak yang harus dibayarkan. Semua faktor ini berkontribusi pada kesulitan ekonomi yang dialami para pengemudi.

Meski begitu, banyak dari mereka masih bertahan karena tidak memiliki pilihan lain. Banyak dari mereka telah lama bergelut dalam profesi ini, sehingga sulit untuk beralih ke bidang lain.

Harapan Masa Depan

Bagi para sopir angkot, harapan utama adalah adanya solusi dari pemerintah atau pihak terkait agar mereka tidak sepenuhnya kehilangan penghasilan. Beberapa di antara mereka berharap ada program bantuan atau pelatihan untuk beralih ke bidang lain.

Namun, sampai saat ini, mereka hanya bisa terus beroperasi sekaligus menunggu kebijakan lanjutan dari Pemkot Bogor.


No More Posts Available.

No more pages to load.