Kisah Pilu Sopir Angkot Bogor 2026, Istri Minta Cerai Karena Ekonomi Sulit

by -di lihat 3 kali
Kisah Pilu Sopir Angkot Bogor 2026, Istri Minta Cerai Karena Ekonomi Sulit

Profesi Sopir Angkot di Kota Bogor Kian Terpuruk

Pendapatan para sopir angkot di Kota Bogor kian menurun dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti meningkatnya jumlah warga yang memiliki kendaraan pribadi dan munculnya transportasi online. Selain itu, turunnya jumlah pekerja pabrik penumpang angkot juga turut memengaruhi kondisi mereka.

Sopir angkot di Kota Bogor mengaku kesulitan dalam mencari penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan ada kasus di mana seorang sopir harus bercerai dengan istrinya akibat masalah ekonomi. Supriadi (52), salah satu sopir angkot, mengungkapkan bahwa situasi ini sangat sulit baginya.

“Sekarang susah, angkot udah bener-bener jatoh,” ujarnya saat berbincang dengan BOGORMEDIA, Jumat (2/1/2026).

Supriadi memiliki empat anak dan mengaku hanya bisa memberikan kebutuhan dasar saja. Akibatnya, ia dan istrinya memutuskan untuk bercerai karena tekanan ekonomi. Mereka sudah pisah selama enam bulan.

“Kadang setoran aja nombok, kurang, untung istilahnya yang punya mobil baik-baik, pada ngerti lah. Bawa angkot sekarang bawa duit Rp 50.000 aja udah alhamdulillah, kadang-kadang dapat cukup buat setoran doang,” katanya.

Dia mengaku hidup di kontrakan dengan biaya Rp 1 juta per bulan. Tanpa bantuan anaknya yang sudah besar, ia merasa sulit membayar biaya kontrakan tersebut. Banyak sopir lain di Kota Bogor juga hidup dalam kondisi serupa, tinggal di kontrakan tanpa memiliki rumah sendiri.

Supriadi menyampaikan bahwa pendapatannya tidak stabil. Tahun baru kemarin, dia hanya mendapatkan Rp 70.000, sedangkan setoran yang harus dibayarkan adalah Rp 80.000. Ia mengaku harus mengambil uang tersebut untuk digunakan di rumah dan kemudian cicil setoran secara bertahap.

Bahkan setelah awal tahun 2026, kondisi ini masih dirasakan oleh para sopir angkot. Supriadi mengatakan bahwa ia terkadang memilih tidak bekerja agar tidak stres karena tidak mendapatkan uang.

Aturan Pemkot Bogor yang Mengancam Sopir Angkot

Di tengah kesulitan pendapatan, para sopir angkot juga dihadapkan dengan aturan Pemkot Bogor yang akan menghapus angkot-angkot tua usia lebih dari 20 tahun. Supriadi mengatakan bahwa jika aturan ini diterapkan, maka kondisinya akan semakin sulit.

Angkot yang digunakannya termasuk angkot tua yang sudah lebih dari 20 tahun. Menurutnya, jika angkot tersebut dihapus, maka akan ada sopir yang kehilangan pekerjaan. “Kalau dihapus makin parah, tadinya mobil dua jadi satu, otomatis sopir salah satunya nganggur, cari kerja sekarang susah,” ujarnya.

Supriadi berharap pemerintah tidak mengurangi jumlah angkot yang ada. Ia menilai bahwa sebaiknya angkot tua tersebut diperbaiki daripada dihapus. “Kalau bisa mah jangan dikurang-kurangin, yang ada aja dibenahin, karena kalau dikurangin yang lainnya susah jadinya, saya mau usaha apa ?, saya kerjanya cuma sopir doang,” tambahnya.

Salah satu sopir angkot lain, Aprianto (59), mengatakan bahwa kondisi yang dialami Supriadi mungkin juga dialami oleh sopir-sopir lainnya. Dia berharap pemerintah bisa memperhatikan nasib para sopir angkot dalam membuat kebijakan yang berdampak pada profesi ini.

“Harapan saya kepada pemerintah, coba lah dikaji lagi, bagaimana bagusnya. Kita ini rakyat kecil apapun kebijakan pemerintah kita juga sadari. Tapi tolong lah diperhatikan bagaimana caranya untuk mengelola angkot tua-tua Kota Bogor, kalau begini kan kadang-kadang saya sendiri juga capek,” ungkapnya.

Masalah yang Dihadapi Sopir Angkot

Para sopir angkot di Kota Bogor menghadapi beberapa tantangan yang memengaruhi kehidupan mereka. Berikut beberapa hal yang menjadi masalah utama:

  • Penurunan Pendapatan: Pendapatan yang semakin menurun membuat para sopir sulit memenuhi kebutuhan dasar.
  • Persaingan dengan Transportasi Online: Semakin banyak warga yang menggunakan transportasi online, sehingga mengurangi jumlah penumpang angkot.
  • Kurangnya Perhatian Pemerintah: Para sopir merasa bahwa kebijakan pemerintah tidak sepenuhnya mempertimbangkan nasib mereka.
  • Aturan Penghapusan Angkot Tua: Aturan yang akan menghapus angkot-angkot tua usia lebih dari 20 tahun dinilai akan semakin memperparah kondisi mereka.

Solusi yang Diharapkan

Para sopir angkot berharap pemerintah dapat memberikan solusi yang realistis untuk mengatasi masalah mereka. Beberapa hal yang mereka harapkan antara lain:

  • Perbaikan Angkot Tua: Bukan hanya dihapus, tetapi diperbaiki agar dapat digunakan kembali.
  • Peningkatan Pendapatan: Memberikan peluang atau insentif untuk meningkatkan pendapatan para sopir.
  • Kebijakan yang Lebih Pro Rakyat: Membuat kebijakan yang lebih mempertimbangkan kebutuhan dan kesejahteraan para sopir angkot.

Dengan adanya solusi yang tepat, diharapkan para sopir angkot di Kota Bogor dapat kembali merasakan kestabilan dalam kehidupan mereka.

No More Posts Available.

No more pages to load.