Penyebab Usus Buntu pada Anak
Semakin banyak penyakit yang tidak menular menyerang anak-anak, salah satunya adalah usus buntu. Meskipun biasanya usus buntu lebih sering terjadi pada orang dewasa, kini semakin banyak anak-anak juga mengalami kondisi ini. Penyebab utama usus buntu pada anak adalah sumbatan di dalam usus buntu (apendiks), yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti tinja yang keras, pembesaran jaringan limfoid, atau infeksi.
Pencernaan anak belum sepenuhnya berkembang, sehingga mereka rentan mengalami gangguan pencernaan jika mengonsumsi makanan tidak sehat. Contohnya, makanan cepat saji, mie instan, dan jajanan pinggir jalan tanpa diimbangi dengan makanan berserat. Hal ini dapat menyebabkan tinja keras dan meningkatkan risiko sumbatan di usus buntu.
Dalam sebuah video yang diunggah oleh akun @dr.trias_sp.anak, diberitakan bahwa ada pasien berusia 4 dan 6 tahun yang mengalami usus buntu. Kedua anak tersebut memiliki kebiasaan makan yang tidak sehat, yaitu sering mengonsumsi makanan yang tinggi lemak dan rendah serat. Oleh karena itu, para orang tua perlu memperhatikan pola makan anak, terutama untuk anak di bawah usia 10 tahun.
Gejala Usus Buntu pada Anak
Gejala usus buntu pada anak bisa bervariasi, tetapi beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:
- Nyeri perut: Biasanya dimulai di sekitar pusar dan berpindah ke bagian kanan bawah perut. Rasa sakit akan semakin parah saat anak bergerak, batuk, atau disentuh.
- Demam: Anak bisa mengalami demam ringan hingga tinggi, terutama jika usus buntu sudah pecah.
- Mual dan muntah serta hilangnya nafsu makan.
- Perut bengkak atau kembung.
- Perubahan buang air besar seperti diare atau sembelit.
- Detak jantung lebih cepat dari biasanya.
- Rasa sakit saat buang air kecil, yang kadang disalahartikan sebagai infeksi saluran kemih.
Jika anak menunjukkan gejala-gejala di atas, terutama nyeri perut yang semakin parah dan disertai demam, segera bawa ke dokter. Usus buntu yang pecah bisa sangat berbahaya dan memerlukan penanganan medis secepatnya.
Pengobatan Usus Buntu pada Anak
Usus buntu pada anak biasanya ditangani dengan dua cara utama, yaitu operasi dan pengobatan antibiotik.
- Operasi apendektomi: Operasi pengangkatan usus buntu merupakan metode utama. Ada dua jenis operasi yang umum dilakukan:
- Laparoskopi: Operasi minimal invasif dengan sayatan kecil di perut menggunakan alat khusus.
- Operasi terbuka: Dilakukan jika usus buntu sudah pecah atau kondisi anak tidak memungkinkan laparoskopi.
- Pengobatan antibiotik: Pada kasus usus buntu yang masih ringan, dokter mungkin memberikan antibiotik melalui infus dan lanjut dengan antibiotik oral. Namun, jika kondisi memburuk, operasi tetap diperlukan.
- Drainase nanah: Jika usus buntu pecah dan terjadi abses, dokter mungkin melakukan drainase untuk mengeluarkan nanah terlebih dahulu.
Setelah operasi, anak akan dirawat di rumah sakit selama beberapa hari untuk pemantauan dan mendapatkan obat antibiotik lanjutan. Orang tua perlu membantu anak menjaga pola makan yang baik selama masa pemulihan.
Makanan yang Perlu Dihindari Saat Anak Mengalami Usus Buntu
Untuk mencegah kondisi anak semakin memburuk, hindari makanan berikut:
- Makanan pedas: Bisa memicu iritasi usus.
- Makanan tinggi lemak: Seperti makanan cepat saji dan daging merah, yang memperlambat pencernaan.
- Makanan sulit dihancurkan: Seperti biji-bijian atau serat kasar.
- Makanan tinggi gula: Bisa menyebabkan sembelit dan meningkatkan risiko infeksi.
- Makanan dengan kadar garam tinggi: Bisa mengiritasi usus.
Makanan yang Disarankan untuk Anak yang Mengalami Usus Buntu
Untuk membantu proses pemulihan, berikan makanan berikut:
- Makanan cair dan mudah dicerna: Seperti sup kaldu atau jus apel tanpa ampas.
- Protein rendah lemak: Seperti ayam tanpa kulit, ikan kukus, tahu, tempe, atau telur rebus.
- Sayuran yang dimasak: Seperti wortel atau labu, agar mudah dicerna.
- Hidrasi yang cukup: Pastikan anak minum air putih yang cukup.
- Rempah penunjang: Seperti jahe hangat atau air seduhan biji fenugreek, jika anak sudah mengenal bahan tersebut.
Anak-anak memiliki sistem pencernaan yang belum sempurna, sehingga penting bagi orang tua untuk memastikan pola makan yang sehat dan teratur. Hindari makanan instan dan cepat saji agar risiko penyakit seperti usus buntu dapat diminimalisir.






