Studi: Makan Sehat Tidak Menjamin Anak Bebas Karies Gigi

by -di lihat 200 kali
Studi: Makan Sehat Tidak Menjamin Anak Bebas Karies Gigi

Studi Baru Mengungkap Fakta yang Mengejutkan tentang Kesehatan Gigi Anak

Sejumlah orang tua sering percaya bahwa memberikan makanan sehat dan menghindari makanan atau minuman manis cukup untuk menjaga kesehatan gigi anak. Namun, sebuah studi terbaru menantang keyakinan ini. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal BMC Oral Health menemukan bahwa camilan dan minuman manis tidak selalu berkaitan langsung dengan kerusakan gigi pada anak. Temuan ini memicu pertanyaan baru tentang faktor-faktor lain yang berkontribusi pada kesehatan gigi.

Penelitian Melibatkan 127 Anak di New York

Penelitian ini melibatkan 127 anak di wilayah utara New York, Amerika Serikat (AS). Semua peserta adalah anak-anak dari keluarga yang memenuhi syarat Medicaid dan dipilih berdasarkan kriteria ketat. Tujuannya adalah memastikan hasil penelitian tidak terpengaruh oleh faktor kesehatan lain. Data dikumpulkan saat anak berusia 12, 18, dan 24 bulan, termasuk pemeriksaan gigi secara menyeluruh. Para pengasuh juga diminta mengisi kuesioner tentang pola makan dan jenis makanan/minuman yang dikonsumsi anak.

Pemeriksaan gigi dilakukan oleh dokter gigi terlatih menggunakan protokol standar. Selain itu, sampel mikroba dari mulut anak juga diambil sebagai bagian dari penelitian yang lebih besar. Namun, fokus utama studi ini adalah menganalisis jamur Candida, bukan bakteri penyebab gigi berlubang.

Temuan Studi Mengenai Pola Makan Anak dan Risiko Gigi Berlubang

Para ibu diminta melaporkan seberapa sering dan seberapa banyak anak mereka mengonsumsi 15 jenis camilan dan minuman umum. Setiap makanan atau minuman kemudian dikategorikan berdasarkan potensi risiko karies, apakah termasuk tinggi atau rendah. Untuk mendapatkan gambaran lebih detail, peneliti menyusun indeks skor gabungan berdasarkan frekuensi dan jumlah konsumsi. Skor ini dibagi menjadi dua kategori: “sweet” (untuk makanan/minuman manis) dan “non-sweet”.

Baca Juga:  4 Manfaat Pisang Rebus untuk Turunkan Berat Badan

Untuk analisis yang lebih mendalam, peneliti menggunakan metode statistik Latent Class Analysis (LCA) untuk mengelompokkan anak-anak ke dalam pola konsumsi tertentu. Jenis makanan atau minuman yang hanya dikonsumsi oleh kurang dari lima anak dikeluarkan dari analisis agar hasil tetap valid secara statistik.

Perbedaan Pola Konsumsi Antar Kelompok

Seiring bertambahnya usia, semua anak menunjukkan peningkatan konsumsi makanan dan minuman, baik yang manis maupun tidak. Peneliti menemukan adanya perbedaan jenis camilan yang dikonsumsi jika dilihat dari kelompok ras. Anak-anak yang bukan berkulit gelap cenderung lebih sering makan keripik, biskuit, dan kue kering. Sementara itu, anak-anak berkulit gelap lebih sering minum jus buah 100 persen, terutama saat mereka berusia 24 bulan.

Namun, meskipun jenis makanan dan minumannya berbeda, hasil analisis statistik menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada skor total konsumsi. Artinya, jika dilihat dari seberapa sering dan seberapa banyak makanan/minuman dikonsumsi, pola makan semua kelompok hampir sama. Jadi, perbedaan ini tidak secara langsung menjelaskan risiko gigi berlubang yang muncul antara kelompok tersebut.

Baca Juga:  Dokter Kreatif Buat Kebaya Custom dengan Bordir Mie Goreng!

Tiga Pola Makan Utama pada Anak

Dengan menggunakan analisis LCA, para peneliti berhasil mengidentifikasi tiga pola konsumsi makanan dan minuman yang berbeda pada anak usia 18 dan 24 bulan:

  • Low sweet/high non-sweet: Konsumsi rendah camilan manis, tetapi tinggi camilan tidak manis.
  • Medium sweet/medium non-sweet: Konsumsi sedang camilan manis, dengan asupan sedang dari makanan tidak manis.
  • High sweet/medium non-sweet: Konsumsi tinggi camilan manis, dengan asupan sedang dari makanan tidak manis.

Anak-anak dalam studi ini tidak tetap dalam satu pola makan saja. Banyak dari mereka berpindah dari satu pola ke pola lain seiring waktu. Meski demikian, pola yang dianggap paling sehat, yaitu Low sweet/high non-sweet, ternyata paling jarang ditemukan dalam sampel studi ini.

Pola Makan Bukan Satu-Satunya Faktor Risiko Gigi Berlubang

Meskipun pola konsumsi makanan dan minuman anak berubah seiring waktu, hasil analisis menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara pola makan tersebut dengan kejadian early childhood caries (ECC) atau gigi berlubang pada usia dini. Bahkan, beberapa anak dengan pola makan sehat tetap mengalami ECC, sementara anak lain dengan pola konsumsi lebih tinggi akan makanan manis justru tidak mengalaminya.

Tingkat ECC tidak berbeda secara signifikan antar kelompok pola makan, baik pada usia 18 maupun 24 bulan. Meski ada variasi tingkat ECC pada anak-anak yang berpindah antar pola makan, jumlah sampel dalam subkelompok tersebut terlalu kecil untuk disimpulkan secara meyakinkan.

Baca Juga:  Cara Menghilangkan Noda Buram di Cermin dengan Cuka dan Air

Faktor-faktor lain seperti ras, jenis kelamin, tingkat pendidikan orang tua, dan kebiasaan memberi makan juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan pola makan atau risiko ECC dalam studi ini.

Kesimpulan

Hasil studi ini menunjukkan bahwa pola makan anak-anak memang bervariasi, tetapi tidak ada satu pun pola konsumsi yang secara konsisten bisa memprediksi risiko terjadinya gigi berlubang. Bahkan, anak-anak dengan pola makan sehat pun bisa mengalami karies, dan sebaliknya.

Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa ECC adalah kondisi multifaktorial. Masalah ini tidak hanya dipengaruhi oleh makanan dan minuman, tetapi juga oleh kebersihan gigi dan mulut, paparan fluoride, kondisi mikroba dalam rongga mulut, serta faktor lingkungan.

Para peneliti menekankan bahwa studi di masa depan sebaiknya melibatkan populasi yang lebih besar dan beragam, serta memasukkan variabel penting seperti praktik kebersihan mulut dan paparan fluoride. Walaupun pola makan anak sering kali menjadi sorotan utama dalam mencegah gigi berlubang, studi ini menunjukkan bahwa tidak ada pola konsumsi yang secara pasti memprediksi gigi berlubang pada usia dini. Kesehatan gigi anak ternyata kompleks, yang melibatkan faktor lain seperti kebersihan mulut dan lingkungan.

No More Posts Available.

No more pages to load.