Kondisi di Sekitar Pendopo Kabupaten Garut Setelah Kericuhan Pesta Rakyat
Setelah terjadinya kericuhan dalam acara Pesta Rakyat pernikahan anak Gubernur Jabar Dedi Mulyadi dan Wakil Bupati Garut Putri Karlina, gerbang barat Pendopo Kabupaten Garut tetap beroperasi tanpa pemasangan garis polisi. Insiden tersebut menewaskan tiga orang, termasuk seorang anggota kepolisian.
Kepala Seksi Humas Polres Garut, Ipda Susilo Adhi, mengungkapkan bahwa olah tempat kejadian perkara (TKP) telah dilakukan pada Jumat malam (18/7/2025). Hasil awal penyelidikan menunjukkan bahwa tidak diperlukan penutupan kawasan tersebut. “Tidak ada police line yang dipasang, tapi penyelidikan tetap berjalan. Wilayah sekitar tetap bisa dilalui masyarakat seperti biasa,” ujar Adhi, Senin (21/7/2025).
Meski tidak dilakukan penutupan penuh, pihak kepolisian tetap melakukan pengawasan intensif di sekitar area gerbang barat Pendopo, titik utama tempat kericuhan bermula. “Pemantauan tetap dilakukan. Kami sudah menandai sejumlah titik krusial berdasarkan hasil olah TKP,” tambahnya.
Situasi di kawasan Pendopo sendiri, berdasarkan pantauan masyarakat, sudah kembali normal. Warga tetap dapat mengakses Masjid Agung Garut dan Alun-Alun Garut yang berada dalam radius sekitar lokasi kejadian.
Salah satu warga dari Kecamatan Tarogong Kaler, Somantri, mengaku datang ke kawasan Pendopo untuk melihat langsung kondisi pascakejadian tersebut. Dia menyebut suasana di sekitar Pendopo sudah tampak seperti hari-hari biasa. “Tadi lewat sini, suasananya sudah ramai seperti biasa. Ada beberapa titik di jalan yang diberi penanda, mungkin itu lokasi yang diperiksa waktu kejadian,” ucapnya.
Peristiwa Kericuhan yang Menewaskan Tiga Orang
Sebelumnya, tiga orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka dalam insiden kericuhan saat pesta rakyat pernikahan anak Dedi Mulyadi dan Wakil Bupati Garut yang digelar di kawasan Alun-alun Otista, Garut Kota, Jumat (18/7/2025).
Peristiwa terjadi akibat lonjakan massa yang tidak terkendali setelah salat Jumat, ketika warga mulai memadati lokasi pembagian makanan gratis. Menurut keterangan sejumlah saksi, sejak pagi area Alun-alun Otista sudah dipadati ribuan warga yang datang dari berbagai wilayah. Mereka tertarik menghadiri pesta rakyat yang menjanjikan pembagian makanan gratis, panggung hiburan, dan acara terbuka lainnya.
“Setelah salat Jumat, makin banyak orang. Banyak orang tua dan anak-anak ikut antre. Tapi tidak ada pengaturan jalur masuk, semua langsung saling dorong ketika pintu dibuka,” kata salah seorang warga.
Desakan yang terjadi di area pembagian konsumsi dan panggung hiburan menyebabkan beberapa warga jatuh dan terinjak-injak. Kepolisian dan pihak medis mengonfirmasi tiga korban jiwa dalam kejadian tersebut. Korban pertama adalah Vania Aprilia, anak perempuan berusia delapan tahun asal Kelurahan Sukamentri, Garut Kota. Kedua adalah Dewi Jubaedah, seorang perempuan lanjut usia berumur 61 tahun. Korban ketiga merupakan anggota Polri, Bripka Cecep Saeful Bahri, berusia 39 tahun.
Kondisi Terkini di Lokasi Kejadian
Meskipun insiden tersebut telah menimbulkan duka bagi keluarga korban dan masyarakat luas, situasi di sekitar lokasi kejadian mulai stabil. Masyarakat kembali beraktivitas normal, dan akses ke fasilitas umum seperti masjid dan alun-alun tetap terbuka. Namun, pihak kepolisian tetap menjaga keamanan dan melakukan pengawasan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.
Selain itu, proses penyelidikan terus berlangsung untuk mencari tahu penyebab pasti dari kericuhan tersebut. Tim investigasi akan memeriksa berbagai saksi dan data yang diperoleh dari lokasi kejadian. Hasil penyelidikan ini akan menjadi dasar bagi langkah-langkah pencegahan di masa depan, baik oleh pihak kepolisian maupun pemerintah daerah.





