Omzet Turun, Pengepul di Ciamis Jual Sisa Barang Tahun Lalu

by -di lihat 199 kali
Omzet Turun, Pengepul di Ciamis Jual Sisa Barang Tahun Lalu

Perubahan Pasar Bendera dan Umbul-Umbul di Tengah Era Digital

Pasar bendera dan umbul-umbul yang biasanya menjadi momen penting bagi para pelaku usaha musiman kini mengalami perubahan signifikan. Penjualan yang dulu menjadi puncak omzet, kini semakin menurun seiring dengan berkembangnya toko online pasca-pandemi.

Husni, seorang pengepul bendera asal Blok Ciledug, Dusun Ranjirata, Desa Cimari, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis, mengungkapkan bahwa penghasilan dari usahanya mengalami penurunan drastis. Ia mengatakan bahwa sebelum era digital, para pedagang bisa membawa dagangan hingga mencapai angka Rp100–110 juta ke berbagai kota di Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur. Namun, sejak 2020, omzet terus menurun, bahkan pada tahun lalu dari target Rp200 juta hanya mampu mencapai sekitar Rp80 juta.

Menurut Husni, salah satu penyebab utama penurunan ini adalah persaingan harga yang semakin ketat. Di dunia digital, harga sudah terlihat secara jelas dan ukuran pun lengkap. Konsumen bisa membandingkan tanpa perlu datang ke lapak.

Tren penjualan bendera dan umbul-umbul terus menurun sejak tahun 2020 hingga saat ini. Husni menyebutkan bahwa tahun terakhir kali penjualan laku keras adalah pada tahun 2018. Sejak 2020, situasi semakin sulit dan berat. Sekarang, ia harus berpikir dua kali sebelum memproduksi banyak barang karena takut tidak laku.

Baca Juga:  Kupprum: Motor Listrik Surabaya dengan Desain Menarik

Omzet pedagang kini hanya mencapai 30–40 persen dari target awal. Bahkan sekitar 60 persen barang tidak terjual dan harus disortir kembali untuk dijual tahun ini. Husni menjelaskan bahwa barang masih dalam kondisi bagus, sehingga bisa dijual kembali di tahun ini dengan cara disortir sesuai ukuran dan jenis benderanya.

Meski pemasangan bendera dan umbul-umbul di lapangan mulai berlangsung sejak akhir Juli hingga awal Agustus, puncak daya beli hanya berlangsung sebentar, yaitu pada tanggal 4 hingga 5 Agustus. Para pedagang bendera asal Ciamis biasanya mulai berangkat ke wilayah Jawa Tengah sejak tanggal 25 Juli.

Kini, banyak pedagang lebih memilih menjual dengan sistem konsinyasi (titip jual) karena penjualan ritel langsung di lapangan semakin tidak menjanjikan. Husni mengungkapkan bahwa sekarang 40 persen barang laku, sedangkan 60 persen tidak. Mereka memanfaatkan barang yang masih bagus untuk dijual kembali.

Husni berharap ada dukungan nyata dari pemerintah bagi pelaku usaha kecil, terutama menjelang momen nasional seperti Agustusan. Ia menyebutkan bahwa jika pemerintah mewajibkan pembelian bendera dari pengepul atau perajin langsung, maka geliat ekonomi masyarakat bisa bangkit kembali. Namun, faktanya, kantor-kantor pemerintahan biasanya membeli di online karena tidak ingin repot. Dulu mereka mencari sendiri ke pengepul.

Baca Juga:  Perusahaan Rekrut Magang Dapat Insentif Pajak

Para perajin dan pengepul lokal bendera masih ingin bertahan, tetapi jika tidak ada proteksi atau solusi, pasar tradisional bisa habis tersapu toko online. Karena bisnis bendera hanya musiman, yakni satu tahun sekali, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Husni menjalankan usaha pembuatan Dodol Garut.

No More Posts Available.

No more pages to load.