Sejarah Tersembunyi di Balik Kebisingan Wisata Lembang
Lembang, yang terletak di Kabupaten Bandung Barat, tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata yang menarik minat pengunjung. Di balik keindahan dan keramaian pariwisata, kawasan ini menyimpan berbagai bangunan bernilai sejarah yang menjadi saksi bisu masa penjajahan Belanda di Indonesia.
Di kawasan Alun-alun Lembang, terdapat sejumlah titik bangunan atau benda bernilai sejarah yang masih tersisa. Beberapa di antaranya adalah Gedung Arca, Gedong Luhur yang kini menjadi sekolah SMP Negeri 1 Lembang, serta eks peternakan Negel dan Meyer. Selain itu, ada juga eks Pendopo Kewedanaan Lembang yang kini difungsikan sebagai kantor PDAM, serta bangunan peninggalan Belanda yang terletak di area Grand Hotel Lembang. Tidak ketinggalan, ada juga bangunan bersejarah di Jalan Baru Ajak Lembang.
Malia Nur Alifa, anggota komunitas Sejarah Lembang, mengungkapkan bahwa setidaknya tiga bangunan atau benda bernilai sejarah telah hilang dari kawasan Alun-alun Lembang. Ia khawatir jumlah tersebut akan bertambah seiring dengan perkembangan pembangunan yang semakin masif.
“Beberapa bangunan yang sudah hilang antara lain rumah keluarga Ursone yang kini berubah menjadi toko Shell, Patung Melia di Grand Hotel, serta sebuah bangunan di Jalan Baru Ajak yang dirobohkan,” jelas Malia dalam wawancaranya.
Untuk memperkenalkan dan melestarikan nilai sejarah yang ada, Malia melakukan kolaborasi dengan Komunitas Temu Sejarah dalam kegiatan susur bangunan di kawasan Alun-alun Lembang. Dalam kegiatan tersebut, mereka mengunjungi sekitar 9 titik bangunan bersejarah.
Malia menjelaskan bahwa rute yang dipilihnya merupakan rute yang paling rentan mengingat potensi kehilangan objek sejarah sangat tinggi. “Saya memilih rute ini karena risiko hilangnya besar. Mungkin tahun depan belum tentu masih ada,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa saat ini terdapat dua bangunan bernilai sejarah yang kondisinya sangat memprihatinkan. Salah satunya adalah Gedong Arca yang kondisinya tidak terurus, serta satu bangunan lainnya di Jalan Baru Ajak yang mulai rusak akibat waktu.
“Gedong Arca menjadi yang paling berisiko karena bisa saja dirobohkan dan hilang. Rute yang kita lalui saat ini sudah kehilangan dua objek. Saya sangat khawatir Gedong Arca akan hilang karena tidak memiliki pemilik. Arca-nya sendiri sudah hilang, ini sangat memprihatinkan karena sangat berpotensi menjadi cagar budaya,” tambahnya.
Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan masyarakat lebih sadar akan pentingnya melestarikan warisan sejarah yang ada di sekitar mereka. Pemahaman akan nilai historis suatu bangunan dapat membantu menjaga keberlanjutan dan keunikan budaya lokal.





