Program PAPS Bantu Siswa Tidak Mampu Lanjutkan Sekolah
Sebuah kejadian yang menarik perhatian masyarakat di Kabupaten Indramayu terjadi beberapa waktu lalu. Seorang siswa yang sebelumnya tidak diterima dalam proses penerimaan murid baru (SPMB) akhirnya bisa melanjutkan pendidikannya setelah mendapat kesempatan melalui program Pencegahan Anak Putus Sekolah (PAPS). Keberhasilan ini berkat bantuan dari SMKN 1 Balongan, yang memberikan peluang bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk tetap bersekolah.
Sekretaris Kesiswaan SMKN 1 Balongan, Muhammad Tajudin, mengungkapkan bahwa ada seorang orang tua siswa yang sangat berterima kasih kepada sekolah karena anaknya berhasil tetap bersekolah. Orang tua tersebut berasal dari Desa Sukaurip, yang letaknya tidak jauh dari sekolah. Awalnya, anaknya tidak lolos dalam SPMB dan sempat mempertimbangkan untuk mendaftar ke sekolah negeri lain. Namun, jarak yang jauh membuat orang tua tersebut merasa khawatir akan biaya transportasi yang mahal.
“Tadinya, orang tua itu pasrah karena tidak ada pilihan lain selain SMKN 1 Balongan. Jika mendaftar ke sekolah lain, biaya akomodasi akan membengkak,” ujar Tajudin. Ia menjelaskan bahwa kondisi keluarga tersebut juga cukup sulit. Ayah dari siswa tersebut hanya seorang pedagang kecil, namun memiliki harapan besar agar anaknya bisa melanjutkan pendidikan agar kelak bisa hidup lebih baik.
Setelah mendaftar melalui program PAPS, anak tersebut akhirnya diterima dan kini sudah mulai belajar. Hal ini menjadi bukti bahwa program ini benar-benar membantu masyarakat sekitar yang tidak mampu.
Penambahan Siswa Berdampak pada Kelas
Dalam program PAPS yang digagas oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, SMKN 1 Balongan menerima tambahan sebanyak 44 siswa. Siswa-siswa tersebut tersebar di 14 rombongan belajar (rombel) yang ada di sekolah. Akibatnya, jumlah siswa dalam satu kelas meningkat menjadi 38-40 orang.
Meskipun jumlah siswa meningkat, Tajudin menyatakan bahwa pihak sekolah tetap mendukung program ini. Menurutnya, program PAPS bertujuan untuk mencegah anak-anak kurang mampu putus sekolah. Dengan adanya program ini, banyak keluarga yang sebelumnya tidak mampu mengirimkan anaknya ke sekolah kini bisa bersekolah.
Namun, penambahan siswa juga membawa tantangan tersendiri. Meski jumlah siswa per kelas belum mencapai batas maksimal 50 orang, tetapi kendala seperti keterbatasan ruang dan fasilitas tetap menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Upaya Optimal dari Guru dan Sekolah
Tajudin mengatakan bahwa guru-guru di sekolah telah terbiasa dengan regulasi baru yang diterapkan pemerintah. Mereka berkomitmen untuk memberikan fasilitas terbaik agar para siswa bisa belajar dengan nyaman. Selain itu, guru-guru juga berusaha menciptakan suasana belajar yang kondusif sehingga siswa tetap semangat dan fokus dalam belajar.
Tujuan utama dari program PAPS adalah untuk menyelamatkan anak-anak dari risiko putus sekolah. Dengan adanya program ini, banyak siswa yang sebelumnya tidak mampu bersekolah kini bisa mengakses pendidikan. Ini menjadi langkah penting dalam upaya pemerintah dan masyarakat untuk memastikan semua anak memiliki kesempatan yang sama dalam mengejar masa depan yang lebih baik.
SMKN 1 Balongan terus berupaya keras agar program ini bisa berjalan dengan lancar dan memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Dengan dukungan dari pihak sekolah dan guru, diharapkan siswa-siswa yang terdaftar dalam program PAPS dapat berkembang secara optimal dan siap menghadapi tantangan di masa depan.





